Kumpulan Berita, Gambar, Video dan Info Unik Lucu Terbaru serta Kejadian aneh tapi nyata di Dunia

Wednesday, November 4, 2015

Kisah Profesor Jepang yang Pernah Menjadi Pengamen di Jakarta

Profesor merupakan tingkatan tinggi dalam ilmu pendidikan. Dimana profesor adalah orang paling pintar diantara yang lain. Untuk menjadi profesor pun harus dilakukan penobatan terlebih dahulu.

Biasanya, profesor berprofesi sebagai pengajar di universitas, atau mereka mengisi acara di seminar-seminar. Menjadi profesor adalah pekerjaan yang menyenangkan bagi beberapa profesor, tapi kisah berikut ini berbeda dengan kisah profesor pada umumnya, profesor ini mengamen.
Profesor Hisanori Kato / zboyjunior145.blogspot.com
Hisanori Kato, atau yang biasa dipanggil Kato, adalah seorang profesor dari Jepang. Ketika pertama kali datang ke Indonesia, Kato sangat kesulitan beradaptasi dan kesulitan berkomunikasi. Maka dari itu, ia sering menjadi bulan-bulan para penjahat ibu kota.

Tahun 1991, ia pertama kali ke Indonesia dengan tujuan mengajar di sekolah internasional yaitu Jakarta International School (JIS). Begitu sampai di Bandara Soekarno-Hatta, ia benar-benar terkejut. Karena keadaan di bandara jauh dari apa yang ia bayangkan.

Bandara begitu tidak teratur. Tidak seperti keadaan di bandara Jepang maupun Amerika. Ia juga memiliki kendala soal bahasa. Tak hanya itu, bahkan Kato juga kaget tangannya ditarik-tarik dan ternyata itu adalah sopir taksi.

"Pertama kali menjejakkan kaki di Bandara Soekarno-Hatta, saya merasa berada di sebuah tempat asing yang berbeda sama sekali dengan Badara Jepang atau Amerika yang saya ketahui. Kesibukan dan kebisingan serta kebingungan ketika menuju ruang tunggu, lebih terasa sebagai sebuah ketakutan," kata Kato.

Namun, pengalaman itu semua belum seberapa bagi Kato. Ada hal lain yang lebih miris yaitu copet. Sudah berkali-kali dompetnya dicopet ketika sedang naik bus kota. Bahkan, ia juga pernah ditodong dengan pisau, uang dan jam tangannya ditodong oleh penjahat.

Tak hanya kejahatan di lalu lintas yang ia rasakan, tapi di rumah pun juga. Pernah uangnya dicuri oleh pembantu rumah tangganya sendiri. Setiap mengalami peristiwa seperti itu, selalu terbersit di benaknya untuk meninggalkan Indonesia.

Untuk membalaskan dendamnya pada kejahatan di Indonesia, ia dan temannya orang Jepang yang dapat bermain gitar mengamen. Duo pengamen ini menamakan dirinya "The Selamat", dan mengamen di bus jurusan Blok M - Kota.

Dengan bahasa Indonesia yang pas-pasan, mereka dengan berani berdendang ria di dalam bus. Pandangan Kato tentang orang Indonesia berubah seketika sejak mengamen. Pasalnya, ketika mereka mengamen orang-orang Indonesia sangat antusias dan memberi mereka banyak uang.

Mereka kagum ketika orang-orang di dalam bus menerima pengamen asing seperti Kato dan temannya dengan baik.

Namun, pada tahun 1994, Kato meninggalkan Indonesia dan pergi ke Sydney untuk menempuh gelar master dan doktor disana. Ternyata, meninggalkan Indonesia adalah hal berat baginya.

"Saya tiba-tiba menangis di dalam taksi. Padahal, saya sudah pernah tinggal di Amerika, tapi tidak merasa seperti itu. Memorinya itu, dicopet, terus saya berjuang. Rasa itu, good and bad", kenangnya.

Setelah lulus dari program doktor, ia malah sering bolak-balik ke Indonesia. Ia juga sempat mengajar di Universitas Nasional selama empat tahun.

Kerinduannya terhadap Indonesia ia tuangkan dalam sebuah buku yang berjudul "Kangen Indonesia". Tak hanya itu, ia yang menjadi lulusan doktor untuk sosiologi agama Universitas Sydney ini juga menulis buku dalam bahasa Indonesia, yaitu Agama dan Peradaban.

Ia mengaku juga sangat mengenal Gus Dur dan Amien Rais. Bahkan, beberapa kali Gus Dur berkunjung ke kediamannya di Sakai. Kato juga berharap dapat tinggal di Indonesia, merasakan kehangatan tinggal di rumah Joglo, di Yogyakarta.

Orang Jepang saja kagum dengan Indonesia, harusnya kita sebagai warga Indonesia lebih bangga dengan negara kita sendiri ya.
 
Atas