Thursday, November 3, 2016

Sadarlah! Dunia jangan Dijadikan Tujuan Hidup!

Kebanyakan orang di zaman modern ini terlalu sibuk dengan urusan dunia mereka. Mereka berlomba-lomba mengejar karir, kesuksesan, hingga melupakan urusan agamanya yang merupakan bekal ketika ia di akhirat.

Dunia itu tidak abadi, dunia itu fana dan sementara. Allah Ta'ala mengkondisikan kita untuk tidak terlalu serius dengan dunia. Allah Ta'ala menggambarkan dunia sebagai senda gurau belaka.
Jangan jadikan dunia cita-citamu! / Gambar via asiatrvl.com
Tidak ada yang kekal di dunia. Tidak ada orang yang selamanya akan sukses dan bahagia di dunia, tak ada juga orang yang selamanya kesusahan di dunia. Di dunia, orang dapat merasa sedih dan bahagia.

Sebaliknya, kehidupan di akhirat lebih sejati. Tidak ada orang yang berbahagia di akhirat untuk jangka waktu yang singkat dan tidak ada yang menderita dalam waktu yang singkat, kecuali Allah Ta'ala menghendaki selain itu.

Jangan jadikan dunia sebagai puncak cita-citamu!

Allah Ta'ala menghendaki orang-orang yang bertaqwa memandang akhirat sebagai kehidupan yang sesungguhnya karena disanalah kehidupan sejati yang akan dijalani manusia. Sedangkan terhadap dunia, Allah Ta'ala menghendaki agar orang bertaqwa melakukannya dengan proporsional saja dan tidak terlampau jauh dalam meraih keberhasilannya.

Namun sayangnya, tak sedikit saudara muslim yang menjadikan dunia sebagai tujuan hidupnya. Mereka rela mengerahkan waktu, tenaga, pikiran, serta harta untuk dunia, dan ketika berurusan dengan akhirat hanya diberi waktu sisa, tenaga, pikiran, serta harta yang sedikit.

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu pernah berkata, "Bilamana manusia menemui ajalnya, maka saat itulah dia bangun dari tidurnya."

Ungkapan ini begitu tepat karena di akhirat kelak lah manusia akan merasakan kehidupan yang sejati. Saat manusia berada di akhirat, barulah mereka sadar betapa sejatinya kehidupan di sana. Kesenangan hakiki dan penderitaan sejati. Surga dan neraka bukanlah mitos atau cerita nenek moyang.

Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda, "Pada hari kiamat didatangkan orang yang paling nikmat hidupnya sewaktu di dunia dari penghuni neraka. Lalu ia dicelupkan ke dalam neraka sejenak. Kemudian ia ditanya, "Hai anak Adam, pernahkah kamu melihat suatu kebaikan, pernahkah kamu merasakan suatu kenikmatan?" Maka ia menjawab, "Tidak, demi Allah, ya Rabb." Dan didatangkan orang yang paling menderita sewaktu hidup di dunia dari penghuni surga. Lalu ia dicelupkan ke dalam surga sejenak. Kemudian ia ditanya, "Hai anak Adam, pernahkah kamu melihat suatu kesulitan, pernahkah kamu merasakan suatu kesengsaraan?" Maka ia menjawab, "Tidak, demi Allah, ya Rabb. Aku tidak pernah merasakan kesulitan apapun dan aku tidak pernah melihat kesengsaraan apapun"." (HR. Muslim 5018)

Dalam hal ini mengandung arti bahwa hadits tersebut menggambarkan betapa fananya dunia, kenikmatan dunia mudah terhapus ketika sudah diperlihatkan pedihnya api neraka, dan penderitaan di dunia mudah terhapus ketika diperlihatkan kenikmatan surga. Sungguh kehidupan di dunia ini tidak pantas diperebutkan, karena akhiratlah yang pantas diperebutkan.

Allah Ta'ala menggambarkan bahwa manusia ketika sudah dihadapkan dengan azab nereka, maka mereka yang tidak beriman akan berharap mereka dapat menebus diri mereka dengan sebanyak apapun yang diperlukan, andai mereka sanggup. Dan tentunya pada saat itu mereka tidak sanggup dan tidak berdaya.

Allah Ta'ala berfirman dalam Surat Al Maidah ayat 36, "Sesungguhnya orang-orang yang kafir sekiranya mereka mempunyai apa yang di bumi ini seluruhnya dan mempunyai yang sebanyak itu (pula) untuk menebus diri mereka dengan itu dari azab hari kiamat, niscaya (tebusan itu) tidak akan diterima dari mereka, dan mereka beroleh azab yang pedih."

Oleh karena itu, Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam selalu memanjatkan do'a kepada Allah Ta'ala yang artinya, "Ya Allah, janganlah Engkau jadikan dunia puncak cita-cita kami dan batas pengetahuan kami."

Wallahu a'lam bishawab.
Sadarlah! Dunia jangan Dijadikan Tujuan Hidup! Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Ratih April
 

Top