Thursday, December 22, 2016

Inilah Mitos dan Fakta Mengenai Bunga Edelweiss

Awalnya, bunga Edelweiss (Leontopodium alpinum), merupakan tumbuhan endemik zona alpina/montana (pegunungan) di daerah pegunungan Eropa. Edelweiss sendiri berasal dari stepa di Mongolia dan setelah beribu-ribu tahun baru dapat tumbuh di Alpen.

Dalam bahasa Jerman, Edelweiss diambil dari dua suku kata, yaitu "edel" yang berarti mulia atau agung, dan "weiss" yang berarti putih. Dan biasanya baru tumbuh di ketinggian 1700-2700 meter dengan jenis tanah tertentu.

Namun, Edelweiss yang ada di Indonesia berbeda dengan yang ada di Eropa. Di Indonesia jenisnya adalah Anaphalis Javanica atau Edelweiss Jawa dan biasa muncul di bulan April dan Agustus.
Edelweiss / Gambar via lonelyplanet.com
Tidak semua gunung terdapat bunga Edelweiss, di Indonesia kita dapat menemui bunga Edelweiss di Gunung Merbabu, Plawangan Sembalun, Lembah Mandalawangi, Alun-alun Suryakencana, Gunung Lawu, Kalimati, dan Tegal Alun.

Bunga Edelweiss di Eropa sudah lama dijadikan simbol nasional, yaitu negara Swiss dan bunga nasional Austria. Selain simbol, bunga yang dijuluki sebagai The Queen ini juga dijadikan logo.

Di Indonesia sendiri, bunga Edelweiss pernah dijadikan sebagai gambar perangko oleh POS Indonesia di tahun 2003. Dan berikut ini ada fakta dan mitos mengenai bunga edelweiss selain dipercaya sebagai lambang keabadian karena ketahanannya untuk tidak layu berhari-hari.

Inilah mitos dan fakta mengenai bunga Edelweiss:

  1. Bunga Edelweiss sudah ditetapkan sebagai tumbuhan langka dan di beberapa tempat bahkan sudah dinyatakan punah. Hal ini dikarenakan para pendaki yang memetik bunga sembarangan.
  2. Disebut bunga abadi karena dapat mekar sampai 10 tahun bila disimpan di tempat yang kering dan suhu ruangan yang baik. Tapi, sumber lain menyatakan bahwa bunga ini hanya dapat bertahan 1 sampai 3 hari sebelum terurai menjadi serbuk halus dan di Indonesia hanya tumbuh di bulan April dan Agustus saja.
  3. Bunga Edelweiss ditemukan pertama kali oleh naturalis Jerman bernama Georg Carl Reinwardt tahun 1819 di lereng Gunung Gede. Lalu diteliti lebih lanjut oleh bonatis Jerman bernama Carl Heinrich Schutz.
  4. Tahun 1965, pada film The Sound of Music pernah menyanyikan lagu tentang bunga Edelweiss.
  5. Dulu ada pos pendaki yang merazia carrier para pendaki untuk mencari apakah para pendaki memetik bunga Edelweiss. Jika ketahuan memetik, maka bunga tersebut harus dikembalikan ke tempat semula.
  6. Di tempat wisata seperti Dieng, bunga Edelweiss yang dijual adalah hasil dari budidaya petani bunga Edelweiss. Warna dari bunga juga berasal dari pewarnaan buatan dan bunga cenderung lebih gemuk daripada Edelweiss asli dari gunung.
  7. Mitos yang diyakini pendaki Eropa maupun Indonesia bahwa bunga Edelweiss adalah lambang keabadian. Mereka yang berhasil mendaki dan memetik setangkai Edelweiss akan memperoleh keabadian dalam cintanya yang hal ini justru mengancam kelangsungan hidup Edelweiss.
Mitos hanyalah mitos yang tidak terbukti benarnya. Mendaki gunung tanpa memetik Edelweiss pun tidak akan mengancam hubunganmu dengan pasanganmu, bukan? Jadi, jangan jadikan alasan mitos untuk membuat ekosistem menjadi punah ya!
Inilah Mitos dan Fakta Mengenai Bunga Edelweiss Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Ratih April
 

Top