Kumpulan Berita, Gambar, Video dan Info Unik Lucu Terbaru serta Kejadian aneh tapi nyata di Dunia

Wednesday, January 11, 2017

Mengapa Manusia Membutuhkan Empati?

Tentu kita sering mendengar kata simpati dan empati. Meskipun seringkali disandingkan, namun kedua kata ini memiliki arti yang berbeda.

Empati adalah kemampuan untuk berbagi dan memahami emosi orang lain. Tidak memiliki empati membuat seseorang kesulitan berinteraksi dan menjadikan interaksi berantakan.
Empati / Gambar via spanglishbaby.com
Di dalam ilmu psikologi, dikenal tiga jenis empati. Yang pertama adalah empati afektif, yaitu kemampuan untuk berbagai emosi dengan orang lain. Biasanya mereka menunjukkan reaksi yang mendalam saat menonton film horor, mereka merasa takut dan menderita saat orang lain menderita.

Selanjutnya adalah empati kognitif, yaitu kemampuan untuk memahami emosi orang lain. Misalnya seorang psikolog yang memahami emosi kliennya secara rasional, tapi tidak berbagi emosi secara mendalam.

Dan yang terakhir adalah empati regulasi emosional. Ini lebih pada kemampuan untuk mengatur emosi. Contohnya ahli bedah yang bisa mengendalikan emosinya saat mengoperasi pasien.

Rasa empati tidak hanya dimiliki oleh manusia, tapi juga perimata dan tikus. Selain itu, psikopat ternyata juga memiliki empati. Hanya saja mereka tidak memiliki simpati.

Mengapa manusia membutuhkan empati?

Empati ini sangat penting agar kita dapat memahami perasaan orang lain sehingga dapat memberikan respon yang sesuai. Meskipun demikian, empati juga dapat memunculkan tindakan tercela. Misalnya saja ketika melihat kecelakaan, kita sangat terpengaruh oleh rasa sakit tersebut sehingga tidak segera menolong.

Misalnya juga empati yang berlebih pada keluarga atau kelompok sendiri, yang justru dapat memicu rasa benci dan sikap menyerang orang lain yang dianggap musuh.

Otak kita yang mengatur empati sangatlah adaptif pada berbagai jenis situasi. Terkadang kita memang membutuhkan rasa empati, namun kita juga harus bisa mematikannya sewaktu-waktu untuk melindungi diri sendiri dan orang lain.

Lebih tepatnya, kita harus dapat mengontrol empati diri kita.
 
Atas