Kumpulan Berita dan Info Unik Lucu Terbaru

Friday, September 22, 2017

Nenek ini Berjualan Daun untuk Memenuhi Kebutuhan Sehari-hari, Padahal Punya Harta Rp 2,5 Milyar! Kenapa ya?

Apa yang akan kamu lakukan ketika memiliki harta mencapai Rp 2,5 Milyar? Wah, pasti banyak sekali keinginan yang ingin dipenuhi. Harta sejumlah itu bukanlah harta yang sedikit, apalagi di Indonesia, kamu bisa membeli rumah, mobil, jalan-jalan, dan banyak keinginanmu dapat terpenuhi.

Tapi, hal ini ternyata tidak mempengaruhi seorang nenek asal Kediri, meskipun ia memiliki tanah warisan senila Rp 2,5 Milyar, ia tak lantas menggunakannya. Bukannya menikmatinya dan bersantai di usia senja, nenek ini justru memilih tetap bekerja berjualan daun, kenapa ya?
Di Pasar inilah Karmiyati berjualan daun / Gambar via panoramio.com

Nenek ini Berjualan Daun untuk Memenuhi Kebutuhan Sehari-hari, Padahal Punya Harta Rp 2,5 Milyar! Kenapa ya?

Karmiyati namanya, ia adalah seorang nenek berusia 72 tahun yang di masa senjanya masih berjualan daun di Pasar Pamenang Pare, Kediri. Harta melimpah tak lantas membuat Karmiyati bersantai-santai di usia senjanya.

Alih-alih bersantai menikmati warisan senilai Rp 2,5 Milyar miliknya, Karmiyati justru membuat keputusan bulat untuk mewakafkan tanah seluas 700 meter persegi tersebut untuk membangun sekolah bagi para penghafal Al Qur'an (Tahfidz School).

Karmiyati bukanlah dari golongan orang kaya. Perjalanan hidupnya penuh dengan perjuangan. Semasa menjadi petani, ia pernah makan nasi aking, ia juga pernah mengalami kesulitan untuk membeli pupuk.

Pernah ia mencoba berjualan sapu lidi hingga bisnis kuliner. Dari bisnis kuliner memang ia merasakan kesuksesan, namun ia jatuh gara-gara berjudi.

Karmiyati dan sang suami berjualan daun pandang, pisang, salam, hingga koran bekas setiap pagi mulai pukul 03.00 WIB hingga pukul 10.00 WIB. Mereka merasa cukup dengan hasil uang berjualan daun untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dari berjualan di pasar itu pun ia masih bisa menabung, setidaknya Rp 100.000.

Rasa bersyukur atas hasil dari kerja keras inilah yang membuat nenek kelahiran 1944 ini mewakafkan tanahnya. 2 anak angkat Karmiyati semuanya sudah menikah, sehingga ia tidak memiliki tanggungan lagi.

Padahal, tanah Karmiyati berada di kawasan Kampung Inggris, Pare. Nilai jual tanah di sana per meter mencapai lebih dari Rp 3,5 Juta. Dan tanah miliknya jika ditaksir mencapai Rp 2,5 Milyar! Namun semua itu tak membuat Karmiyati kalap, ia lebih memilih mewakafkan tanah tersebut.

Tanah Karmiyati adalah hasil dari upah jaga gardu pada zaman Belanda yang diterima oleh Ngarinem dan Khaminem. Ngarinem dan Khaminem adalah mbah dari Karmiyati. Sebelum jatuh ke tangan Karmiyati, tanah itu terlebih dahulu diberikan pada Tukilah, ibu dari Karmiyati.

Karena Karmiyati tidak memiliki saudara kandung, akhirnya tanah itu diberikan sepenuhnya kepada Karmiyati dan diwariskan pada tahun 1985.

Meskipun Karmiyati dan suaminya pernah mengalami masa sulit hingga terbilang jatuh, namun tak pernah terbersit di pikiran mereka untuk menjual tanah warisan tersebut hingga sekarang.

Karmiyati dan suaminya telah membuka lembaran baru dan memperbaiki diri di masa senja. Masa lalu kelam mereka biarlah berlalu. Kini mereka akan segera mendaftar haji.

Tanah tersebut diwakafkan kepada Yayasan Ahad Pagi atas nama mbahnya. Karmiyati ingin agar tanahnya bermanfaat bagi kegiatan hafalan Al Qur'an, sehingga ia dan keluarganya mendapatkan pahala dari Allah Ta'ala atas tanah wakafnya.

Semoga kegiatan baik Karmiyati ini diijabah oleh Allah Ta'ala. Aamiin.

close