Kumpulan Berita dan Info Unik Lucu Terbaru

Saturday, October 28, 2017

Inilah Cara dan Manfaat Tahnik untuk Bayi

Bayi yang lahir tentu saja belum memiliki organ tubuh lengkap seperti layaknya manusia dewasa, misalnya gigi. Gigi pada bayi umumnya tumbuh di usia 6 bulanan, dan tumbuhnya gigi pun satu per satu dimulai dari gigi depan.

Karena gigi muncul satu per satu, jadi makanan yang dikonsumsi bayi pun harus yang lumat, tidak bisa langsung makanan keras. Tahnik berhubungan dengan makanan yang dikonsumsi bayi dan juga penguatan giginya. Lalu, bagaimana cara tahnik pada bayi dan apa saja manfaatnya?
Tahnik pada bayi / gambar via imgrum.org

 Inilah Cara dan Manfaat Tahnik untuk Bayi

Ibnu Hajar Al Asqalani rahimahullah menjelaskan pengertian tahnik:
"Tahnik adalah mengunyah sesuatu kemudian meletakkan/memasukkannya ke mulut bayi lalu menggosok-gosokkan ke langit-langit mulut. Hal ini dilakukan dengan tujuan agar bayi terlatih dengan makanan, juga untuk menguatkannya.

Yang patut dilakukan ketika mentahnik hendaklah mulut (bayi tersebut) dibuka sehingga (sesuatu yang telah dikunyah) masuk ke dalam perutnya. Yang lebih utama, mentahnik dilakukan dengan kurma kering (tamr).

Jika tidak mudah mendapatkan kurma kering (tamr), maka dengan kurma basah (ruthab). Kalau tidak ada kurma, bisa diganti dengan sesuatu yang manis. Tentunya madu lebih utama dari yang lainnya."

Orang yang mentahnik itu mendoakan keberkahan untuk sang bayi. Oleh karena itu, pilihlah orang yang diyakini memberikan kebaikan untuk anak tersebut, misalnya saja ulama, ustadz, orang sholeh, atau orang tua sang bayi. Seperti pada zaman Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, para sahabat akan membawa anak mereka kepada beliau untuk ditahnik.

Proses mentahnik adalah dengan mengunyahkan kurma kemudian meletakkan kunyahan kurma tersebut di rongga mulut bayi atau digosok-gosok ke rongga mulut bayi, terutama di tempat tumbuhnya gigi bayi. Namun yang paling inti adalah di langit-langit mulut bayi.

Dalam dunia medis, tahnik ternyata sangat bermanfaat. Seorang dokter dari Semarang, dr. Susilo Rini telah membuat penelitian yang menghasilkan kesimpulan bahwa ada stem cell yang berada di sekitar mulut bayi di tempat tumbuhnya gigi dan di langit-langit mulut. Stem cell ini berfungsi untuk mematangkan sistem imunitas secara alami dan mengendalikan sistem kekebalan tubuh.

Secara alami, stem cell tidak dapat berfungsi sendiri, harus dengan cara menggosok-gosoknya di langit-langit mulut bayi. Meskipun terdapat stem cell di air susu ibu (ASI) dan pada sinar matahari, namun yang utama adalah berada di langit-langit mulut bayi.

Selain itu, ada zat yang bernama sialic acid yang berupa glikoprotein pada air liur yang berfungsi untuk menghadang mikroba dan mampu mengikat virus serta bakteri. Pada sepuluh hari pertama kehidupan bayi adalah waktu yang sangat baik dimana sialic acid berfungsi baik pada bayi. Oleh karena itu, dibutuhkan bantuan dari luar tubuh bayi, seperti dengan mentahnik ini.

Mengapa Harus Kurma?

Kurma dikatakan sebagai rajanya buah-buahan. Kurma memiliki kandungan karbohidrat, antimikroba, antioksidan dan vitamin yang tinggi serta banyak, selain itu juga Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam sangat menyukai kurma. Tak hanya itu, lebih spesial lagi bahwa buah kurma banyak disebutkan di dalam Al Qur'an.

Ketika kurma dengan banyaknya kandungan tersebut dikunyah dan bercampur dengan ludah, maka akan berubah menjadi glukosa. Glukosa sangat penting untuk memberikan energi bagi sel-sel pertahanan tubuh yang belum matang pada bayi di awal-awal kehidupannya.

Pemberian kurma ini adalah metode pematangan organ limfoid baik lokal maupun sistemik. Limfoid merupakan kelenjar limfe yang berhubungan dengan sistem kekebalan tubuh.

Kurma, stem cell, dan sialic acid berpadu dalam aktivitas tahnik ini. Jadi, kurma yang sudah dilumat hingga halus itu kemudian dikolohkan ke mulut bayi atau diputar di rongga mulut, lalu ditekan pada langit-langit mulut bayi, kemudian sambil dido'akan keberkahan bagi bayi tersebut.

MasyaAllah, betapa besar manfaat tahnik ini. Hal tersebut sangat baik diterapkan pada bayi. Jauh sebelum penelitian kesehatan dilakukan, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam sudah menerapkannya. Apalagi setelah adanya penelitian, sebagai umat Islam kita harus lebih meyakininya.

close