Kumpulan Berita dan Info Unik Lucu Terbaru

Sunday, November 19, 2017

Astagfirullah! Kekhawatiran Rasulullah Terbukti Sekarang! Apa yang Terjadi?

Zaman sudah berubah, umat Islam saat ini sudah tidak dapat melihat Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam. Beruntunglah umat pada zaman Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam yang masih dapat melihat beliau, minta nasihat dari beliau, dan menjadi sahabat beliau.

Meski begitu, umat Islam sekarang ini masih dapat mematuhi setiap petuah beliau. Melalui hadits-hadits, kita bisa mengetahui cerita di zaman beliau beserta petuah beliau.

Meski beliau sudah meninggal bertahun-tahun yang lalu, namun kekhawatiran beliau justru terbukti di masa sekarang ini. Kira-kira apa yang dikhawatirkan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam yang terjadi pada umat Islam saat ini?
Jangan berbangga pada harta / Gambar via pixabay.com

Inilah Kekhawatiran Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam yang Terjadi pada Umat Islam saat ini

Beliau tidak khawatir umatnya menjadi miskin, justru yang beliau khawatirkan adalah ketika umatnya berlomba-lomba dalam mencari kekayaan dan membanggakan hartanya. Bahkan sekarang ini, berbagai jalan dilakukan demi mendapatkan kekayaan.

Orang-orang telah lalai karena harta. Mereka melakukan segala cara seperti memperbanyak kredit, hutang, bahkan bekerja tak kenal waktu untuk memperbanyak harta. Bukan lagi sandang pangan papan yang mereka pentingkan, tapi kebutuhan sekunder bahkan tersier yang mereka perbanyak.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhuma, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda, "Yang aku khawatirkan pada kalian bukanlah kemiskinan, namun yang kukhawatirkan adalah saling berbangganya kalian (dengan harta)." (HR. Ahmad 2:308)

Ternyata, sifat manusia yang berlomba pada kekayaan ini terdapat pada Al Qur'an Surat At Takatsur: 1-2. Allah Ta'ala berfirman, "Bermegah-megahan telah melalaikan kamu (1). Sampai kamu masuk ke dalam kubur (2)".

Yang paling buruk adalah memperbanyak kredit atau hutang. Jangan mudah tergoda dengan mudahnya kredit yang ditawarkan. Kredit justru akan melipatgandakan hutang karena di dalamnya terdapat riba.

Tahukah kalian bahwa harta dan kebanggaan akan sirna? Ketika kita meninggal nanti, hanya ada tiga yang mengantarkan kita sampai ke liang lahat, yaitu keluarga, harta, dan amal. Keluarga dan harta akan kembali setelah kita dikebumikan, sedangkan amal lah yang akan menemani kita.

Inilah mengapa kita harus memperbanyak amalan baik, bukan memperbanyak harta. Karena jika kita terlalu tamak, kikir, dan mementingkan harta, tanpa sadar kita akan menjadi budak harta.

Harta yang benar-benar milikmu bukanlah kekayaanmu saat ini. Sebanyak apapun uang yang kamu miliki, sebanyak apapun emas yang kamu miliki, sebagus apapun pakaian yang kamu kenakan, semua akan sirna.

Kamu tidak bisa menikmati selamanya, apalagi ketika kamu telah meninggal. Satu hal yang benar-benar menjadi hartamu adalah harta yang kamu sedekahkan di jalan Allah Ta'ala dan harta yang disalurkan sebagai nafkah.

Mengapa harta yang disedekahkan dan dinafkahkan adalah harta yang terbaik? Karena harta tersebut akan kita nikmati sebagai pahala di akhirat kelak. Jadi, mencari harta boleh, tapi jangan berlebihan dan sedekahkanlah serta nafkahkanlah harta di jalan Allah Ta'ala.

Namun terkadang, kita lalai akan gemerlapnya harta dunia. Salah satu caranya agar tidak lalai adalah dengan melihat orang yang nasibnya di bawah kita.

Dalam Hadits Riwayat Muslim No. 2963, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda, "Pandanglah orang yang berada di bawahmu (dalam masalah harta dan dunia) dan janganlah engkau pandang orang yang berada di atasmu (dalam masalah ini). Dengan demikian, hal itu akan membuatmu tidak meremehkan nikmat Allah Ta'ala padamu."

Jadi, manfaatkanlah apa yang kamu miliki ini dengan sebaik-baiknya. Harta yang kamu dapatkan saat ini adalah titipan dari Allah Ta'ala. Gunakan harta tersebut di jalan Allah Ta'ala sebelum harta tersebut hilang dan berpindah ke orang lain. 

Al Hasan Al Bashri mengatakan, "Apabila engkau melihat seseorang mengunggulimu dalam masalah dunia, maka unggulilah dia dalam masalah akhirat."

close