Kumpulan Berita dan Info Unik Lucu Terbaru

Monday, July 30, 2018

Pelajaran dari Kisah Raja yang Selamat karena Jarinya Terpotong

Seringkali kita mengeluh ketika apa yang kita inginkan tidak kunjung dikabulkan oleh Allah Ta'ala. Kemudian kita membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain, meratapi kegalauan diri dan terus menyalahkan keadaan.

Padahal, semua yang terjadi adalah kehendak Allah Ta'ala. Allah Ta'ala tidak akan membuat hamba-Nya merugi, pasti ada hal baik dibaliknya.

Ingat firman Allah Ta'ala ini, "Boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu." (QS Al Baqarah:126). Firman Allah Ta'ala ini dapat dikaitkan dengan kisah seorang raja yang tangannya terpotong.
Ilustrasi

Inilah Kisah Raja yang Selamat karena Jarinya Terpotong

Dahulu kala, hiduplah seorang raja yang sangat gemar berburu. Raja ini memiliki seorang sahabat yang sangat ia sayangi dan sangat dekat dengannya. Ia selalu mengajak sahabatnya ini untuk berburu.

Sahabatnya ini selalu mengatakan "Kher Insyaa Allah" (Insyaa Allah ini yang terbaik). Sahabat raja percaya bahwa apapun yang terjadi adalah yang terbaik.

Pada suatu hari, sang raja sedang bermain-main dengan sebilah pisau. Tiba-tiba, jari sang raja terpotong karena pisau yang ia mainkan. Raja pun panik karena darah menyembur dari jarinya.

Dengan tenang, sahabatnya berkata, "Kher Insyaa Allah".

Mendengar hal tersebut, sang raja marah. Ia merasa hal ini sangat genting tapi sahabatnya dengan santai mengatakan hal demikian. Apa yang akan menjadi baik jika jarinya terpotong?

Dengan dibalut amarah yang tinggi, raja memerintahkan pangawalnya untuk memenjarakan sahabatnya tersebut.

Sahabatnya tetap berkata, "Kher Insyaa Allah".

Beberapa bulan kemudian, setelah jari sang raja sudah membaik, raja memutuskan untuk berburu kembali. Namun kali ini ia ingin berburu sendirian tanpa didampingi oleh para pengawalnya. Ia ingin menikmati sunyinya hutan sambil mencari hewan buruan.

Nampaknya raja terlalu jauh berjalan masuk ke dalam hutan. Tiba-tiba, sang raja ditangkap oleh penduduk suku asli hutan tersebut. Meskipun raja sudah menjelaskan, tapi sang kepala suku tidak mau tahu.

Bertepatan dengan raja ditangkap adalah hari persembahan bagi suku tersebut, dan tentu saja sang rajalah yang akan dijadikan tumbal. Para algojo sudah dipersiapkan untuk membunuh raja.

Ketika tubuh raja diperiksa, para algojo mengatakan bahwa orang ini (raja) tidak dapat dijadikan tumbal lantaran ia memiliki cacat di jarinya yang tidak utuh. Akhirnya raja dibebaskan kembali.

Ia bersyukur tidak jadi ditumbalkan karena jarinya yang telah terpotong itu. Segera ia menghampiri sahabatnya di penjara. Ia menangis dan minta maaf pada sahabatnya. Kemudian raja membebaskan sahabatnya.

"Aku minta maaf karena telah menjebloskanmu ke penjara dan tidak mendengarkanmu. Tapi aku ingin bertanya, mengapa saat itu kau tetap mengatakan 'kher Insyaa Allah' ketika aku menjebloskanmu ke penjara?, tanya sang raja.

Kemudian sahabatnya menjawab, "Aku adalah sahabatmu, jika kau tidak menjebloskanku ke penjara waktu itu, maka di hari berburumu ini kau akan mengajakku. Karena kepala suku tidak jadi menjadikanmu tumbal karena cacat, maka mereka akan memilih aku sebagai tumbal."

Dari kisah ini, kita dapat mengambil pelajaran bahwa segala sesuatu yang terjadi pada kita, pasti ada hikmah baik dibaliknya. Sekalipun itu hal yang menyedihkan bagi kita. Allah Ta'ala telah mempersiapkan kebaikan dibalik adanya kesusahan.

close