Kumpulan Berita dan Info Unik Lucu Terbaru

Sunday, August 5, 2018

Inilah Alasan Penting Mengapa Kita Harus Selalu Berprasangka Baik!

Prasangka timbul dari dalam diri hati manusia. Prasangka ada dua, yaitu prasangka baik (husnudzon) dan prasangka buruk (suudzon). Sebagai umat beragama yang berakhlak, hendaklah kita selalu menempatkan hati kita untuk berprasangka baik.

Terkadang banyak hal yang membuat kita jengkel terhadap sesuatu, terutama karena perbuatan teman, keluarga, atau orang yang kita kenal lainnya. Langsung kita menjustifikasi dengan prasangka yang buruk. Padahal, kita harus selalu membiasakan diri untuk berprasangka yang baik karena ada hikmah besar dibaliknya!
Belajar dari semut yang dapat memaklumi

Inilah Alasan Penting Mengapa Kita Harus Selalu Berprasangka Baik!

Belakangan ini, manusia semakin sulit untuk berbaik sangka pada orang lain. Memaklumi perbuatan orang lain yang tidak sesuai dengan harapan kita.

Karena jengkel, kita langsung menjustifikasi teman kita dan langsung men-cap teman kita dengan label 'tidak setia kawan' atau lainnya. langsung saja menuduh bahwa teman kita tidak peduli, atau lainnya.

Padahal, pasti ada alasan lain mengapa teman melakukan hal demikian pada kita. Belajarlah dari seekor semut yang ada di dalam Al Qur'an surat An Naml ayat 18.

Allah Ta'ala berfirman, "Hingga ketika mereka sampai di lembah semut, berkatalah seekor semut, "Wahai semut-semut! Masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan bala tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari"." (QS An Naml:18)

Ayat ini mengajarkan kita untuk dapat memaklumi perbuatan. Semut-semut tersebut memaklumi perbuatan manusia yang bisa saja menginjak mereka, karena mereka sadar bahwa mereka sangat kecil dan manusia beribu kali lebi besar dari mereka. Sehingga seringkali tidak melihat ada semut dan menginjaknya.

Seekor semut saja dapat memaklumi, bagaimana dengan manusia? Seharusnya dapat lebih memaklumi lagi.

Ada suatu kisah, seorang dokter dan pasiennya yang kritis. Saat itu, sang dokter tiba-tiba mendapatkan panggilan untuk mengoperasi seorang pasien yang sedang kritis. Dokter itu sedikit terlambat karena saat itu tidak sedang di rumah sakit.

Ayah pasien yang berada di luar ruang operasi langsung marah pada sang dokter karena terlambat.

"Darimana saja kamu? Anak saya sedang kritis dan harus segera dioperasi tapi kamu malah datang telat!", bentak sang Ayah.

Dokter tersebut berkata, "Maafkan saya, insyaa Allah anak Anda berada di dalam lindungan Allah Ta'ala."

"Mudah sekali kamu berkata begitu, tidak pernah merasakan anakmu kritis ya!".

Dokter tersebut kemudian masuk ke ruang operasi tanpa membalas ucapan Ayah dari pasien.

Dua jam berlalu, kemudian operasi selesai dan berjalan lancar. Pasien dapat diselamatkan.

Kemudian dokter keluar dan berkata pada Ayah dari pasien, "Alhamdulillah, anak Anda selamat. Kalau begitu saya permisi dulu." Dokter kemudian meninggalkan ruang operasi.

Sang Ayah meskipun anaknya sudah diselamatkan, tetap saja tidak terima dengan sikap sang dokter yang dianggap tidak sopan karena tiba-tiba langsung pergi. Kemudian Ayah tersebut bertanya pada suster mengapa dokter begitu sombong.

Suster menjelaskan bahwa sebenarnya hari ini, anak sang dokter meninggal dunia. Dokter langsung datang ke rumah sakit karena mendapatkan panggilan operasi. Kemudian dokter segera menyelesaikan tugasnya dan kembali ke rumah untuk menghadiri pemakaman sang anak.

Mendengar itu semua, Ayah dari pasien tersebut merasa bersalah telah berburuk sangka pada sang dokter.

Kisah ini menjadi pelajaran bagi kita untuk jangan langsung menjustifikasi segala hal. Hal buruk sekalipun mungkin ada hikmah dibaliknya. Lebih baik, berikanlah kesempatan bagi orang lain untuk menjelaskan mengapa ia dapat berbuat demikian.

Oleh karena itu, usahakan hati kita untuk selalu berprasangka yang baik. Bukankah Allah Ta'ala sesuai dengan prasangka hamba-Nya?

close