Kumpulan Berita dan Info Unik Lucu Terbaru

Tuesday, September 25, 2018

Inilah Hukum jika Menggugat Cerai Suami karena Pindah Agama

Dalam sebuah pernikahan, perceraian merupakan mimpi buruk bagi semua keluarga. Meskipun di dalam Islam dihalalkan, namun tetap saja perceraian bukanlah satu-satunya jalan untuk menyelesaikan masalah.

Di dalam agama Islam, pihak yang berhak melayangkan talak adalah suami. Tapi, jika ada suatu hal yang benar-benar mendesak, maka istri pun diperbolehkan menggugat cerai. Seperti ketika suami murtad, istri berhak menggugat cerai suami. Lalu, bagaimana hukumnya?
Cerai

Inilah Hukum jika Menggugat Cerai Suami karena Pindah Agama

Jika pada saat menikah, kedua mempelai memeluk agama Islam dan pernikahan dilakukan secara hukum Islam, maka untuk menyelesaikan masalah tersebut dapat mengajukan ke Pengadilan Agama. Tidak peduli salah satu pihak sudah murtad.

Dalam Surat Edaran Mahkamah Agung dinyatakan bahwa jika terjadi perceraian, maka yang digunakan dalam menyelesaikan masalah adalah peraturan hukum agama saat mereka menikah. Yang memiliki wewenang pun Pengadilan Agama, bukan Pengadilan Negeri.

Ini bisa menjadi pelajaran penting, jika ada calon suami istri yang akan menikah berbeda agama pada mulanya, kemudian salah satunya pindah agama Islam, maka tetap gunakanlah agama Islam dalam proses pernikahannya. Sebagai antisipasi, ketika terjadi perceraian maka yang akan menyelesaikan adalah Pengadilan Agama.

Keuntungannya, karena hakim yang menyelesaikan juga beragama Islam. Jadi, ada harapan bagi yang beragama Islam untuk mendapatkan hak pengasuhan anak, karena anak tersebut lahir dari keluarga muslim dan sebaiknya diasuh oleh orang tuanya yang muslim.

Sebaliknya, jika pada awalnya suami istri tersebut non muslim, kemudian salah satunya menjadi muslim, maka peraturan yang digunakan dalam perceraian adalah denganhukum perdata Barat, dan pengadilannya adalah Pengadilan Negeri.

Untuk pengasuhan anak di bawah hukum perdata, jika anak berusia di bawah 12 tahun, maka ikut sang ibu. Sementara jika sudah lebih dari 12 tahun, maka diperbolehkan memilih ikut ibu atau sang ayah. Kecuali jika kondisi sang ibu tidak memungkinkan untuk mengasuh, maka akan dialihkan hak asuh pada ibu dari ibu pihak istri (nenek orang tua ibu).

Semoga bermanfaat!

close